Serunya Tersesat

December 14, 2011

 

Tersesat??? Siapa sih yang suka kalau dirinya tersesat? Kalian juga pasti nggak suka kalau tersesat. Tapi pengalaman tersesatku yang satu ini berbeda dengan yang kalian pikirkan. Kejadian ini berawal dari rencana liburan keluargaku yang gagal. Mau tahu ceritanya? Begini ceritanya.

Libur lebaran kali ini, aku dan keluargaku sudah merencanakan liburan yang menyenangkan. Tanggal 22 September, kami akan pergi ke tempat wisata air di Solo, Pandawa namanya. Di Solo kami juga akan menginap di tempat penginapan milik teman ayahku. Sungguh rencana liburan yang menyenangkan. Tapi sayang. Mungkin ini belum saatnya kami pergi. Karena menjelang hari keberangkatan, adikku yang bernama Ahya jatuh sakit. Sehingga liburan kami di tunda. Setelah Ahya sembuh, kami juga tidak jadi pergi. Karena, sekarang giliran adikku Urfa yang jatuh sakit dan saat itu, ibuku juga sudah mulai masuk kerja. Jadi, tidak mungkin lagi bagi kami untuk pergi ke Solo. Karena, tidak mungkin kami pergi tanpa ibuku.

Karena batalnya rencana liburan kami, maka bapakku mengajak aku dan adik-adikku untuk pergi jalan-jalan menggunakan mobil. Kami pun setuju. Namun, Urfa yang masih sakit tidak bisa ikut. Dia tinggal di rumah bersama adikku yang bernama Ifta. Selain karena ingin menemani Urfa, Ifta memang tidak suka bepergian dengan naik mobil. Aku, Tifa, Ahya, dan bapakku pun pergi ke arah Bantul. Di sana kami melewati Kasongan. Setelah itu, kami menuju arah yang tidak kami ketahui, karena bapakku mengajak kami melewati jalan yang belum pernah kami lalui. Hingga akhirnya kami menemukan tulisan yang menunjukkan arah ke Gua Selarong. Karena kami belum pernah mengunjungi gua itu, maka kami mencoba menuju ke sana. Setibanya di tempat itu, kami tidak tahu di mana letak guanya. Untung ada denah tempat wisata itu. Di denah tercantum bahwa di sana terdapat semacam tempat yang berisi air, tapi aku lupa namanya. Kami pun menuju ke tempat itu, ternyata airnya sudah tidak ada. Ya, tinggal genangan-genangan air yang terlihat kotor. Walaupun begitu, aku dan adik-adikku sempat mengambil foto di sana.

Setelah dari tempar air tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke gua. Untuk sampai ke gua, kita harus menaiki tangga yang jumlahnya sangat banyak. Sungguh lelah rasanya, sesampainya di atas. Di sana terdapat dua gua. Gua yang pertama adalah Gua Kakung dan gua yang kedua adalah Gua Putri. Di Gua Putri kami tidak bisa masuk, tetapi kami bisa masuk di Gua Kakung. Di Gua Kakung, aku dan Tifa berfoto di sana. Tapi kami tidak bisa lama-lama di dalam sana, karena lama-kelamaan muncul aroma yang tidak sedap dan menusuk hidung. “Wah… bau ya mbak?” kata adikku. Aku mengangguk sambil meninggalkan tempat itu. Ini menunjukkan bahwa tempat itu kurang dirawat. Padahal jika tempat itu di tata ulang, daerah itu bisa menjadi tempat wisata yang indah dan akan banyak pengunjung yang datang.

Setelah dari tempat itu, kami naik lagi ke tempat yang lebih tinggi. Di sana tidak terdapat apapun. Tapi kita bisa melihat pemandangan daerah Bantul dari sana. Betapa indahnya pemandangan di sana. Karena Ahya kehausan, bapakku turun lagi untuk membeli minuman. Setelah mendapatkan minuman, bapak naik lagi. Satu botol air minum langsung habis diteguk kami berempat. Rasa dahaga kami pun telah lenyap. Kami pulang menuju tempat parkir dengan melewati rute yang berbeda. Di perjalanan banyak terdapat batu kapur. Sebelum tiba di tempat parkir, kami ke masjid dahulu untuk shalat Dzuhur. Letak masjid berdekatan dengan tempat parkir. Selesai shalat, kami ke bukit kapur yang terletak di sebelah masjid. Di sana, lagi-lagi kami mengambil foto. Seusai berfoto, kami melanjutkan perjalanan.

Kami berjalan ke mana saja, yang penting belum pernah dilalui. Bahkan bapakku pun tidak tahu di daerah mana saat itu kami berada. “Belok kanan atau kiri?” tanya bapakku. “Kanan saja, Pak!” jawab kami serempak. Bapakku pun membelokkan mobil ke arah kanan. Kami terus berjalan sampai bapakku pun tambah tidak mengenali daerah yang kami lewati. Kemudian bapakku bertanya lagi, “kita mau belok ke arah mana? Lurus, ke kanan, atau ke kiri?” Kemudian aku menjawab, “kiri saja.” Tapi adikku Ahya meminta untuk belok ke arah kanan. Padahal bapakku sudah terlanjur belok kiri. Kemudian bapakku menawarkan untuk berbalik arah, “gimana, mau belok kanan saja?” Ahya pun menjawab, “nggak usah, ke kiri aja.” Akhirnya kami meneruskan perjalanan. Selama di perjalanan, kami melewati gunung. Jalannya menanjak, tapi itu sangat mengasyikan.

Karena sudah semakin siang, perutku mulai keroncongan. Lagi pula aku tadi pagi juga belum sarapan. Kemudian kami melewati warung mie ayam dan bapakku menawarkan kami untuk makan mie ayam di warung itu. Kami pun setuju, kami berbalik arah dan berhenti di warung itu. Kami memesan dua porsi mie ayam, dua es jeruk, dan satu es teh. Aku makan mie ayam bersama dengan Tifa, takut nggak habis. Sedangkan bapak makan bersama Ahya. Karena aku masih lapar, maka aku minta bapakku untuk memesankanku satu porsi mie ayam lagi, tapi dibungkus. Kebetulan aku tadi bawa piring dan nasi bungkus, sebenarnya untuk sarapan di jalan. Tapi karena aku tidak suka nasinya, dimakanlah nasi itu oleh bapakku. Kemudian untuk minumnya, kami pesan satu es teh dan satu es jeruk lagi. Untuk bekal di perjalanan nanti. Selesai membayar, kami melenjutkan perjalanan. Saat di jalan, aku berusaha untuk memakan mie ayam itu. Tapi karena jalan yang berliku-liku dan tempat duduk yang tidak lurus, maka aku kesulitan untuk memakan mie ayam itu. Hingga akhirnya, bapakku melihat sungai terbentang di pinggir jalan. Bapak menawarkan kami untuk berhenti sejenak dan menikmati dinginnya air sungai itu. Kami pun setuju, sekalian aku ingin menghabiskan mie ayamku. Aku dibantu Tifa untuk menghabiskan mie ayamku. Setelah selesai menghabiskan mie ayam, kami langsung turun menuju ke sungai.

Dari tempat mobil kami berhenti menuju sungai jaraknya lumayan jauh. Di jalan yang menujukkan arah sungai, tertulis “Tempat Penyebrangan Perahu ke Kali Progo.” Setibanya di sungai, kami langsung memasukkan kaki kami di tepian sungai. Sungai itu sangat luas dan juga terdapat ikan-ikan kecil di dalamnya. Sesekali ikan-ikan itu mengenai kakiku. Saat kami asyik bermain air, ibuku menelepon. “Lagi ngapain?” tanya ibuku. “Ini kita lagi asyik main air di sungai.” Jawab bapakku. “Loh, kalian ini di mana?” ibuku kembali bertanya. “Nggak tahu. Kita tersesat.” Kata bapakku. “Udah, cepetan pulang!” ibuku meminta kami agar cepat pulang. “Dik Urfa belom maem to? Sudah minum obat belom?” tambah ibuku. “Kan sudah dimasakin mbah uti. Minum obatnya juga sama mbah uti.” Jawab bapakku santai. “Kalau disuruh cepet pulang juga, kita juga nggak tahu jalannya.” Lanjut bapakku. Akhirnya kami kembali ke tempat di mana mobil kami berhenti. Di sana ada dua anak perempuan dan bapakku mencoba bertanya pada mereka di daerah manakah itu? Dan ke manakah arah menuju Jogja? Tapi mereka pun juga tidak tahu. Katanya, mereka dari Sleman.

Karena tidak berhasil mendapatkan informasi, kami pun berjalan sesuka hati kami. Setelah beberapa saat, kami melihat rombongan orang yang melayat. Kemudian bapakku berkata, “Wah Fi, sudah ada tanda-tanda peradaban.” Maksudnya? Ah bapakku memang agak aneh. Tapi benar juga sih, berarti kita sudah akan mendekati perkotaan. Kemudian tanpa disadari, jalan yang kami lewati tidak lagi menaik, melainkan menurun. Lalu aku berkata, “Loh, Pak, kok sekarang jalannya turun ya? Tadi kan naik.” Bapakku menjawab, “oh… iya ya. Tadi kan jalannya naik. Berarti kita sudah memutari gunung dong?” Kemudian di tengah perjalan, kami melihat mobil. Padahal dari tadi hanya mobil kamilah yang melintas. Hingga warga di daerah yang kami lewati begitu herannya melihat mobil kami. Mungkin karena jarangnya mobil yang lewat di daerah itu. Mobil yang kami lihat tadi, berplat nomer “H”. Kemudian Tifa berkata, “Pak, kita ikuti saja mobil itu. Kan itu mobil Semarang. Siapa tahu lewat Jogja.” Tapi bapakku lebih memilih bertanya pada seorang laki-laki yang berada di pinggir jalan. Akhirnya, diberitahulah jalan menuju Jogja.

Kami melanjutkan perjalanan. Kami melihat mobil berplat nomer “H” tadi. “Nah itu dia, mobil yang tadi. Tuh kan, betul kataku. Kita ikuti aja mobil itu!” Tifa kembali menyarankan. Tapi tiba-tiba mobil itu belok ke kanan dan kami belok ke kiri. “Nggak usahlah. Mobilnya aja ke kiri, kita kan mau ke kanan. Kalau kita ikuti, siapa tahu mobil itu nggak ke Jogja. Kalau malah mau ke tempat saudaranya yang lebih terpencil dari tempat ini, gimana?” sahut bapakku. Karena sudah mulai mengantuk, aku tiduran di mobil bagian belakang. Sehingga aku tidak melihat suasana di luar jendela. Tiba-tiba bapak berkata, “ Hei, coba lihat! Kota Jogja kelihatan lho dari sini.” Aku langsung terbangun dan melihatnya. Ternyata benar. Wah… bagus sekali. Setelah sudah tidak nampak, aku pun tidur lagi. Tak lama kemudian bapakku berkata, “Nah, Fi, kalau di sini, bapak sudah tahu jalannya.” Kemudian aku pun berkata, “Alhamdulillah, berarti kita sudah bisa pulang dong?” Aku melanjutkan tidurku lagi. Mungkin karena melihat Ahya dan Tifa yang kelelahan, lalu bapak berkata, “Selamat tidur ya, anak-anakku.”

Waktu kubuka mata, mobil yang kami naiki tadi sudah berada di garasi rumah kami. Akhirnya kami tiba di rumah. Setelah shalat Ashar, aku melanjutkan tidurku karena kelelahan. Sedangkan bapakku sepertinya langsung mengurusi Urfa yang sedang sakit. Pengalaman ini memang sangat melelahkan, tetapi ini seru sekali. Sayang, Urfa, Ifta, dan ibuku tidak bisa ikut. Meskipun begitu, aku tetap merasa bahagia.

Jadi, begitulah pengalaman tersesatku. Mengasyikkan bukan? Kalian juga bisa mencobanya dengan keluarga kalian masing-masing. Dijamin seru deh. O.K?!?

 

Alfi Raudatil Jannah

Advertisements

Balum ada judul

December 14, 2011

 

Sekarang adalah tahun ajaran baru. Tahun ini juga adalah tahun pertamaku masuk SMA. Tapi, karena ayahku harus dipindahtugaskan, maka aku dan keluargaku juga harus ikut pindah. Kami pindah di daerah Jakarta. Di sana, aku bersekolah di sebuah SMA yang bernama SMA Bina Harapan. Seperti sekolah-sekolah lain, di sekolahku yang baru itu juga diadakan Masa Orientasi Siswa atau yang sering kita kenal dengan sebutan MOS. Aku pun mengikuti kegiatan MOS dengan sebaik mungkin. Setelah dua hari menjalani MOS, aku masih belum punya teman yang bisa akrab denganku. Mungkin karena perbedaan bahasa dan budaya antara aku dan mereka. Tapi setelah seminggu bersekolah di sana, aku sudah punya teman akrab, namanya Jessica. Setelah lama berteman dengannya, aku dikenalkan dengan teman-temannya. Mereka adalah anak-anak SMA dari sekolah lain, ada yang teman satu les-lesan dengan Jessy, teman satu komplek perumahan, dan juga temen nongkrong si Jessy.

Lama-kelamaan aku pun berbaur dengan mereka dan memiliki gaya hidup yang sama dengan mereka. Setiap hari aku selalu dengan mereka, tak ada satu haripun yang tertinggal, meskipun itu adalah hari Minggu. Selama aku berteman dengan mereka, rasanya asyik-asyik aja, tak ada yang aneh bagiku. Buatku, mereka juga bukan anak-anak yang nakal, meski mereka agak malas dan tidak terlalu rajin. Tapi, entah mengapa suatu hari ayah dan ibuku melarangku untuk bermain dengan mereka. Kata ayah dan ibuku, semenjak aku banyak bergaul dengan mereka, nilai di semua mata pelajaranku turun, bahkan banyak yang tidak tuntas. Hal ini mereka sayangkan, karena saat aku masih tinggal di Tegal nilaiku selalu bagus. Aku selalu menjadi juara. Larangan dari ayah dan ibuku kuabaikan. Aku tetap pergi bermain dengan Jessy dan teman-temanku yang lain, walaupun tidak sesering yang dulu. Atau kadang, aku diam-diam pergi dengan mereka tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku.

Karena nasihat dari ayah dan ibuku yang kuabaikan, maka aku terjerumus ke dalam jurang narkoba gara-gara bergaul dengan teman-temanku yang selama ini aku bangga-banggakan. Ternyata merekalah penghancur hidupku. Penghancur masa depanku. Memang, semua berawal dari keisengan. Tai, semua berlanjut. Aku tidak bisa bertahan bila tidak ada zat haram yang sangat merugikan itu. Di rumah, tak jarang aku kejang-kejang, sakau, pokoknya semua rasa sakit ada di tubuhku, tentu saja ayah dan ibuku tidak mengetahuinya. Ingin rasanya kubebaskan diri ini dari narkoba. Tapi apa daya, kini aku sudah kecanduan. Selama ini, orang tuaku pun masih belum mengetahui bahwa aku, kini tengah menjadi pecandu narkoba, hal yang paling kubenci dan kutakuti selama ini. Bagaimana bisa aku seperti ini? Aku ingin lepas dari jerat narkoba yang kini mengikatku erat-erat.

“Ya Allah, Ya Tuhanku. Ampunilah hamba atas segala dosa yang telah hamba perbuat. Segala dosa hamba terhadap orang tua hamba, dosa hamba yang telah durhaka kepada mereka, dosa hamba yang telah mengabaikan peringatan-Mu melalui mereka, Ya Allah……

Betapa dosanya hamba ya Allah, hamba telah membohongi kedua orangtua hamba ya Allah.

Ya Allah, bantu hamba-Mu ini melepaskan diri dari ganas-Nya narkoba, Ya Allah. Beri hamba petunjuk, tunjukkan hamba jalan yang lurus, jalan menuju kepada-Mu, Ya Rabbi.”

Doa itulah yang selalu aku panjatkan kepada Tuhanku, Allah SWT. Hingga akhirnya aku sadar betul, bahwa ini semua memang kesalahanku. Aku pun mulai jujur kepada orang tuaku. “Ayah, ibu, maafkan Naomi, ya? Naomi mengaku salah telah mengabaikan nasihat ayah dan ibu.” Kataku lemas kepada mereka. “Sudahlah Naomi, ayah dan ibu sudah memaafkan kamu.” Kata ayahku. “Lagi pula, sekarang kan kamu sudah tidak berhubungan dengan mereka lagi.” Tambah ibuku. “memang benar, tapi gara-gara mereka saat ini aku tidak bisa lepas dari narkoba, bu.” Aku berkata dalam hati. Andai saja ibu tahu. Ingin kukatakan yang sebenarnya, bahwa aku kini adalah seorang pecandu narkoba. Tapi rasa takut telah menjadi kabut pekat di dalam hatiku. Ingin sekali rasanya aku katakana pada mereka yang sejujurnya, tapi aku tak berani.

Keesokan harinya, yaitu hari Minggu. Aku bangun tidur dan melaksanakan sholat subuh, tapi aku masih tetap mengkonsumsi narkoba yang kumiliki tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku. “Ya…Allah, bagaimana ini? Aku sudah berusaha lebih taat pada-Mu, tetapi di sisi lain aku masih mengkonsumsi narkoba.” Kataku dalam hati. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berkata yang sejujurnya kepada ayah dan ibuku. “Yah, bu, sebenarnya….” Perkataanku pun terputus. “Ada apa, Naomi?” Tanya ibuku. Aku tidak tega melanjutkan perkataanku setelah melihat wajah ibuku yang penuh kasih sayang padaku itu. Tapi aku harus tetap mnegatakan kesalahanku ini pada mereka. “Se…se…sebenarnya Naomi…. sekarang pakai narkoba, bu.” Kataku geragapan. “Apa? Kenapa bisa seperti ini?” ayahku marah padaku, membentak-bentak aku. Aku maklum, karena kesalahan yang telah aku perbuat kali ini bukanlah kesalahan sepele yang mudah dilupakan.

Setelah ayah dan ibu kuberi penjelasan dan kusampaikan bahwa aku ingin berhenti memakai narkoba, agaknya mereka lebih tenang. Akhirnya mereka memutuskan agar aku ikut rehabilitasi di daerah yang jauh dari rumahku. Setelah lama menahan sakitnya tubuh ini karena tidak memakai narkoba, setelah sekian lama jauh dari orangtua, akhirnya kini aku sudah bisa pulang dan Insya Allah aku sudah bersih dari narkoba. Tak akan kuulangi kesalahanku itu lagi, semoga itu adalah yang pertama dan yang terakhir aku mengenal narkoba.

Atas kebodohanku menggunakan narkoba, aku dikeluarkan dari sekolah. Kemudian kucari-cari sekolah yang mau menampung mantan pengguna narkoba sepertiku. Setelah skian lama ditolak oleh banyak sekolah, akhirnya aku mendapatkan sekolah baru juga. Memang tidak sebagus sekolahku yang dulu, SMA Bina Harapan. Tapi di sana aku bisa lebih fokus dalam belajar dan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Menjadi orang yang lebih bertaqwadan lebih beriman kepada Allah SWT. Itulah yang bisa kudapatkan dari sekolahku yang baru, SMA Al Islam Jakarta.

Akan kutingkatkan ibadahku, akan lebih khusyuk lagi diriku ini menjalaninya. Tak akan kuabaikan lagi perkataan orangtua, akan selalu kudengar dan kulaksanakan semua perintah orangtuaku. Dan yang terakhir adalah aku akan lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman, agar aku tak lagi masuk ke jurang kehancuran.

ALFI RAUDATIL JANNAH

Me…!

April 2, 2009

Cika, seorang gadis yang sangat manis, selalu ceria, dan sangat sederhana. Ia tinggal di sebuah desa yang bernama Desa ___ bersama sang ibu. Saat ini ia bersekolah di SMP yang ada di desanya dan ia duduk di bangku kelas dua. Di sekolah ia memiliki teman dekat, bernama Tama, teman sebangkunya. Mereka sudah berteman lama, jadi sudah sangat akrab. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Kadang naik sepeda, kadang jalan kaki. Namun hari ini, mereka tidak bersekolah, itu karena sekarang adalah libur sekolah semester I. Pagi telah datang, sang mentari menyapa hangat. Cika pun bangun dan segera mandi. Selesai mandi Cika mengenakan pakaian yang berupa kaos dan celana pendek, kemudian mengikat rambutnya. Setelah rapi, ia membantu ibunya memasak. Dia cuci sayuran, memotong-motong wortel, serta mengiris-iris bawang. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, “Tok… Tok… Tok.’ Permisi.” “Siapa itu bu?” tanya Cika. “Ibu juga tidak tahu. Sebentar ya, ibu lihat dulu.” Jawab ibu. Cika mengangguk. Ibu segera membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Lusita, sepupu Cika. Ia datang bersama dengan ayahnya. “Eh.. Mas Rudi, mari mas masuk! Ayo Lusita masuk!” ajak ibu Cika. Mereka pun duduk bersama di sofa yang sudah agak rusak. “Aduh Yah, kok sofanya nggak enak banget sih buat duduk,” keluh Lusita. “Jangan begitu, kamu kan akan menginap disini kurang lebih satu minggu, jadi jangan rewel!” kata ayah. “Hah!” Lusita tak bisa menolak. “Oh iya, Cika… sini nak!” panggil ibu. Cika yang sudah selesai memasak segera cuci tangan dan menuju ruang tamu. Di sana mereka berbincang-bincang banyak hal. Cika dan Lusita memang sudah saling kenal, tetapi mereka tidak begitu akrab, karena Cika jarang ke kota, begitu pula Lusita. Dia juga jarang ke desa, ini kali keduanya ke desa. Setelah terlalu lama berbincang-bincang, ayah Lusita pun pulang, tetapi Lusita harus tetap tinggal di sana. Saat hari semakin malam, Lusita harus tidur satu kamar dengan Cika. Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Ibu membangunkan Cika dan Lusita agar segera mandi. Cika pun bangun dan bergegas ke kamar mandi, sedang Lusita masih terlentang di kasur yang ada di kamar Cika. Seusai mandi Cika membantu ibunya memasak, karena ia disuruh ibunya untuk menemani Lusita berjalan-jalan keliling desa. Dengan terpaksa Cika harus melakukannya. “Lusita…bangun! Bangun Lusita! Ayo cepat mandi! Nanti aku ajak ke rumah temanku, Tama. Ayo cepat!” teriak Cika. “Aduh.. kan masih pagi, kenapa buru-burusih?” ucap Lusita. Kamu mau nggk kukenalkan dengan temanku? Habis itu kita jalan-jalan bertiga,” jawabku. Lusita segar terbangun dn bergegas mandi. Setelah menunggu lama, akhirnya Lusita selesai juga mandinya. Cika dan Lusita pergi ke rumah Tama. “Bu kita pergi dulu ya,” aku berpamitan pada ibu. “Hati-hati, ya nak,” balas ibu. Cika dan Lusita berangkat ke rumah Tama. Setibanya di rumah Tama, “Tama…Tama!!” teriak Cika. “Siapa ya? Oh Cika,” ibu Tama membuka pintu rumah dan keluar. “Tama ada bu?” tanyaku. “Ada, sedang mandi. Tunggu dulu ya,” kata ibu Tama. Tak lamakemudian Tama keluar. “Ada apa Ka? Kok pagi-pagi sudah datang ke rumahku,” Tama heran. Aku pun mengatakan tujuanku dan mengenalkan Lusita pada Tama. “Ini Lusita, sepupuku,” Cika mengenalkan Lusita. “Tapi dia agak manja, jadi sori ya, kalau dia nanti ngrepotin,” bisik Cika. “Dan ini Tama, teman yang tadi akan kukenalkan padamu.” Selesai berkenalan, mereka mulai berjalan-jalan keliling desa. Di perjalanan lusita sepertinya sudah merasa nyaman dengan keadaan desa, atau mungkin karena adanya Tama? Saat mereka tiba di hutan dan sudah berjalan cukup jauh dari desa, Lusita melihat sebuah lubang yang sangat besar. “Hei, lihat! Apa itu?” ia mencoba mendekatinya. Setelah agak dekat, ia tertarik ke dalam lubang tersebut. Karena panik dan takut dimarahi ibunya, Cika mengajak Tama untuk menyusul Lusita. “Aduh.. gimana nih? Lusita ketarik, kita harus apa? Ngikutin Lusita?” tanya Cika pada Tama. “Cuma itu yang bisa kita lakukan. Jadi, yuk kita susul Lusita!” ajak Tama. Tama dan Cika pun menyusul Lusita. Setiba di Alkid, aku langsung menuju ke tempat biasa Cika, aku, dan Ray biasa bertemu. “Aduh.. Lita, kamu kok kok lama banget sih! Kita udah dari tadi nunggu kamu di sini,” keluh Cika. “Sori deh! Sekarang kita joging yuk!” ajakku. “Yuk! Keburu siang,” sahut Ray. Saat joging, aku teringat bahwa besok malam akan ada konser____. Aku ingin sekali melihat konser itu. Jadi, kuajak Cika dan Ray, “Eh tahu gak? Besok malam ada konser lho!” ”Oh.. konsernya ___ ya?” jawab Naya. “Wah.. pasti seru tuh! Kita nonton yuk!” ajak Ray. “Boleh, tapi kita mau janjian di mana?” tanyaku. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu langsung di Alun-Alun Utara. Saatnya malam yang kutunggu-tunggu tiba. Aku berdandan serapi mungkin, kuikat rambutku, kupakai jaket dan celana jeans-ku. isilia Lupita, atau yang sering dipanggil dengan nama Lupita itu kini duduk di bangku kelas tiga SD. Dia bersekolah di SD Ceria selalu. Di sana, terdapat delapan belas kelas, masing-masing terdiri dari tiga kelas dan Lupita termasuk siswa di kelas 3A. Namun, banyak teman Lupita yang tidak menyukainya. Itu karena sifatnya yang sombong, pelit, dan tidak suka menolong. Dia juga sangat manja, karena dia adalah anak semata wayang. Apa pun yang dia inginkan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya, mulai dari baju sampai boneka. Namun, setiap kali ia punya mainan baru, ia tidak pernah mau meminjamkan mainannya pada temannya. Ya, itu karena sifat pelitnya. Hari ini hari Minggu. Matahari bersinar cerah, burung-burung berkicauan dengan merdunya, harum mawar dan melati menambah indahnya pagi itu. Jam dinding menunjuk pukul tujuh, namun Lupita masih juga belum bangun. Ibunya sudah berusaha membangunkannya berkali-kali, tetapi tetap saja sia-sia. Tak lama kemudian, tetangga Lupita datang. Ia bermaksud untuk menitipkan Sarah, anaknya yang seumuran dengan Lupita, karena ia harus pergi bersama suaminya. “Bu, saya dan suami saya mau pergi, kira-kira nanti sore sudah pulang. Tapi, Sarah di rumah sendirian.jadi, saya titip Sarah sama ibu, ya? Di sina kan ada Lupita, biar mereka bermain bersama-sama,” jelas tetangga Lupita. “Oooh pasti boleh, lagi pula ini kan hari libur,” jawab ibu Lupita setuju. Tetangga Lupita kemidian berpamitan dan segera pergi. Karena sarah tidak punya teman, ibu Lupita kembali berusaha untuk membangunkan Lupita. “Lupita, bangun Lupita! Di depan ada Sarah lho! Ayo mandi dan temani dia bermain. Nanti ibu bikinkan kue untuk kalian,” bujuk ibu Lupita. Lupita pun segera bangun dan menuju kamar mandi. Air segar dan bersih membasahi badannya, sabun yang wangi ia gunakan untuk membersihkan badannya. Setelah beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan kaosnya yang berwarna biru. Tak lupa ia kenakan rok pendek kesayangannya, kemudian ia gunakan jepit rambutnya yang berwarna biru. Selesai berdandan, ia keluar menemui Sarah dengan membawa mainan-mainannya.  Sinar mentari menyambut pagi, burung-burung gereja tak mau kalah bernyanyi, harumnya melati dan mawar diiringi angin sepoi-sepoi menambah sempurnanya pemandangan jendela kamarku hari ini. Jam dinding kayu menunjuk pukul 05.30 aku segera mengganti kostum tidurku dengan baju joging. Minggu pagi yang cerah, hari ini aku, Naya , dan Ray janjian ketemu di gapura kampung rencananya mau joging bareng ke Alkid. “maa… Lita pergi joging dulu ya, udah ditunggu ray sama naya ni….!!’ kataku sambil menalikan sepatu. “muach..lolita janji selesai joging langsung pulang deh…” kataku menicium pipi mama sambil berlalu “taaa… kalau pulang beliin nasi uduk mang iyos donk..papa pengen makan nasi uduk..” kata papa sambil ngasih uang 10 ribu satu lembar ketanganku “mama juga donk ta, lagi males masak ni….kalau gitu sekalian mas dion juga ya..!!’ mama mengambil uang 10 ribu dari tanganku diganti uang 20 ribu “iya deh…..mah uang jajan buat llolita mana?” kataku sambil merayu “idih…dasar anak mama nie, ehm..nie deh cukup kan?” mama memeberi selembar 10 ribu dari papah tadi “oke deh mama chayang…!!!” kataku langsung beranjak pergi.

Jingah

February 11, 2009

            Di sebuah desa ada seseorang yang mendapat warisan sebuah rumah dari orang tuanya, namun rumah itu tidak dihuninya, sehingga tampak tua, kotor, dan manyaramkan. Di dekat rumah itu, ada sebuah pohon besar yang bernama Jingah dan sebuah sungai yang jernih.

            Suatu hari banyak anak-anak yang berceburan di sungai itu sambil bergelantungan di pohon Jingah. Selesai berceburan, anak-anak itu menderita penyakit gatal-gatal dan bengkak-bengkak di sekujur tubuh mereka. Orang tua mereka yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh perbuatan makhluk halus yang menghuni pohon Jingah. Makhluk halus itu marah karena ia terganggu. Keesokan harinya, orang tua beserta anaknya yang mendeita penyakit, datang ke pohon Jingah dengan membawa kayu bakar dan kain hitam. Mereka datang kesana untuk mohon maaf pada makhluk halus yang menghuni pohon Jingah.

            Suatu hari, saudara pemilik rumah tua yang berada di dekat pohon Jingah datang ke kampung itu. Ia datang untuk melihat rumah tua milik saudaranya. Setelah melihat rumah tua itu, ia pergi menuju pohon Jingah. Disana ia menemukan getah pohon Jingah. Setelah ia teliti, ternyata getah tersebut dapat mengakibatkan gatal-gatal dan bengkak-bengkak. Jadi, gatal-gatal dan bengkak-bengkak yang diderita anak-anak itu disebabkan oleh getah pohon Jingah, bukan karena makhluk halus yang menghuni pohon Jingah.